Entah bagaimana itu? Tapi selama kita hidup, selalu saja ada orang yang tidak bisa menjaga mulutnya. Tanpa dia pikirkan dulu, dia berkata seenaknya. Dan tidak sedikit yang begitu menyakitkan.
Padahal kita ketahui tidak ada yang bisa lebih tajam lagi selain lidah. Walaupun tak menimbulkan luka fisik, tapi menimbulkan luka yang kita sendiri tidak mengerti bagaimana menyembuhkannya? Seakan dada kita terbenam dalam sesak, seolah oksigen semakin berkurang, dan begitu sakit walau hanya dibayangkan.
Saya termasuk manusia yang menerima banyak perkataan buruk. Dan itu terjadi dari mulai saya kecil, tak sedikit teman yang saya anggap teman, mengejek saya sepanjang waktu itu. Tidak hanya terjadi di kelas dasar, tapi juga saat saya mulai duduk di bangku SMP, dan masih berlanjut kemasa putih abu.
Bahkan dimasa itu, bukan hanya teman. Tapi juga kata-kata yang memiliki rasa kotoran itu juga keluar dari mulut guru saya. Hingga sekarang saya sudah terlatih dengan semua itu.
Saya memang termasuk kedalam anak yang nakal. Bahkan katakan saja mereka memang bisa disebut pantas melontarkan kata-kata itu. Tapi bagi saya itu sudah tidak penting lagi, sekarang saya seperti memiliki sebuah saringan dalam telinga. Tak ada sedikitpun kalimat busuk yang bisa masuk, selain untuk saya lupakan, dan buat apa dipedulikan?
"Disaat orang lain tidak mempunyai filter dimulutnya, sebaiknya kita memiliki filter ditelinga kita."
Kalimat itu selalu saya sampaikan sekarang. Terutama kepada orang yang sering kesal dengan yang diucapkan temannya, atasannya, dan semua orang yang tak pernah berpikir dulu sebelum berkata. Orang-orang yang tidak tau cara menyampaikan hal dengan baik.
Karena mereka juga lebih banyak berbicara dari pada mendengar, mereka lupa kalau telinga mereka sebenarnya lebih banyak daripada mulut.
Padahal kita ketahui tidak ada yang bisa lebih tajam lagi selain lidah. Walaupun tak menimbulkan luka fisik, tapi menimbulkan luka yang kita sendiri tidak mengerti bagaimana menyembuhkannya? Seakan dada kita terbenam dalam sesak, seolah oksigen semakin berkurang, dan begitu sakit walau hanya dibayangkan.
Saya termasuk manusia yang menerima banyak perkataan buruk. Dan itu terjadi dari mulai saya kecil, tak sedikit teman yang saya anggap teman, mengejek saya sepanjang waktu itu. Tidak hanya terjadi di kelas dasar, tapi juga saat saya mulai duduk di bangku SMP, dan masih berlanjut kemasa putih abu.
Bahkan dimasa itu, bukan hanya teman. Tapi juga kata-kata yang memiliki rasa kotoran itu juga keluar dari mulut guru saya. Hingga sekarang saya sudah terlatih dengan semua itu.
Saya memang termasuk kedalam anak yang nakal. Bahkan katakan saja mereka memang bisa disebut pantas melontarkan kata-kata itu. Tapi bagi saya itu sudah tidak penting lagi, sekarang saya seperti memiliki sebuah saringan dalam telinga. Tak ada sedikitpun kalimat busuk yang bisa masuk, selain untuk saya lupakan, dan buat apa dipedulikan?
"Disaat orang lain tidak mempunyai filter dimulutnya, sebaiknya kita memiliki filter ditelinga kita."
Kalimat itu selalu saya sampaikan sekarang. Terutama kepada orang yang sering kesal dengan yang diucapkan temannya, atasannya, dan semua orang yang tak pernah berpikir dulu sebelum berkata. Orang-orang yang tidak tau cara menyampaikan hal dengan baik.
Karena mereka juga lebih banyak berbicara dari pada mendengar, mereka lupa kalau telinga mereka sebenarnya lebih banyak daripada mulut.

Komentar
Posting Komentar